Sabtu, 28 Maret 2009

Artikel Pendidikan

GAMBAR PORNOGRAFI MERUSAK OTAK ANAK
JAKARTA, SENIN - Paparan materi pornografi dalam waktu yang lama dan terus menerus terhadap anak ternyata dapat merusak otak. Potensi kecerdasaan yang seharusnya bisa berkembang ketika makin dewasa jadi terhambat.ADVERTISEMENT
Demikian disampaikan dr. Donald L. Hilton, Jr.,M.D., F.A.C.S, pakar bedah saraf dari Texas, Amerika Serikat di Jakarta, Senin (2/3).

Menurut Donald, kerusakan otak bisa terjadi karena di dalam otak manusia terdapat hormon atau zat kimiawi yang bernama dopamin. Zat ini berperan mengatur pemenuhan akan kesenangan (pleasure) pada manusia, misalnya pada saat bermain game, berjudi, pemakaian obat-obatan, juga dalam kesenangan seksual.
Pemenuhan hasrat senang secara normal tidak menimbulkan masalah bagi hormon ini. Hormon ini akan berada dalam kondisi seimbang. Namun, kata Donald, hormon ini akan menjadi masalah ketika pemenuhan kesenangan ini berlangsung tidak normal atau berlebihan.
Pada orang yang kecanduan akan kesenangan tertentu seperti kecanduan pada pornografi, hormon ini akan terpakai terus menerus dan pada akhirnya jumlahnya menjadi sangat sedikit, " jelas Donald. Akibatnya, otak akan mengerut (shrinked), terutama pada pusat-pusat otak yang mengontrol kesenangan.
Orang makin tidak bisa menguasai diri, dan terus berupaya mendapatkan kepuasan berulang-ulang. Intensitasnya pun makin meningkat. Adiksi kesenangan tertentu juga dapat mempengaruhi kekuatan daya belajar dan memori.
"Pada sel otak normal rangkaian listrik bejalan sangat cepat. Namun pada sel otak yang addicted rangkaian listrik ini berjalan lebih lamban, " ujar Donald. Selain itu, mengerutnya otak juga mengganggu sistem komunikasi
Hal ini dapat diatasi dengan memperbaiki sel otak yang rusak. Ada empat faktor penting dalam proses penyembuhan, antara lain motivasi diri, lingkungan yang aman, support group, dan konselor atau terapis.
menurut Donald, proses penyembuhan memakan waktu kurang lebih 18 bulan agar fungsi otak normal kembali.

Artikel MATEMATIKA

Khazanah Matematika
Matematika seringkali dihubungkan dengan pola teratur, misalnya pola-pola yang tunduk pada rumus atau persamaan tertentu. Apakah matematika mungkin mengandung pola acak ? Tentu saja tidak mungkin. Hal yang mendekati keacakan ini adalah pseodorandom, yaitu cara untuk menyembunyikan langkah yang kita masukan dalam sebuah program. Implikasinya, kita akan sulit untuk mencari sebuah deret dalam bilangan random, dan juga menentukan seberapa acak deret tersebut. Bahkan, salah satu fungsi pembangkit bilangan random yang paling populer berasal dari fungsi yang sederhana.

Dalam beberapa program seperti Excel ataupun Maple, keacakan (randomness) bisa dibangkitkan dengan menggunakan formula tertentu. Dalam geometri, sebuah pembuktian pada umumnya melibatkan persamaan-persamaan. Ilustrasi digunakan sebagai pembuka untuk pembuktian formal menggunakan bahasa simbol. Hal ini membuat kita bertanya-tanya, mana yang muncul lebih dulu, persamaan mampu menciptakan bentuk visual yang indah, visual mampu menghasilkan bentuk persamaan yang indah, atau relasi antara kedua proposisi tersebut setara ?

Karir apa yang bisa ditempuh oleh seorang sarjana matematika? Pilihannya bisa beragam. Andaikan lulusan matematika dipandang sebagai himpunan yang homogen, maka perjalanan hidup usai memperoleh gelar S.Si pun tak lazim. Karena matematika memiliki akses yang langsung dan sangat kuat terhadap bidang-bidang disiplin ilmu alam, teknik, sosil budaya dan ekonomi. Pemekaran matematka dalam system analisa data statistik social atau pemakaian differensial dalam ilmu ekonomi contohnya, sangat tergantung pada kinerja pemahaman logika. Terlebih lagi dalam ilmu alam dan teknik, matematika sudah pasti menjadi pilar utama. Begitupula dalam pemodelan yang meski telah menggunakan program, masih menyisakan beberapa persamaan matematika. Tapi apakah seorang matematikawan atau lulusan matematika menjadi ‘unggul’ karena kemampuannya berhitung dan bermain symbol ? Dalam beberapa aspek jawabannya ya. Namun dalam kehidupan nyata, simbol tak hanya muncul dalam notasi khusus tetapi juga dalam kejelian melihat pola. Seorang guru yang biasa mengoreksi pekerjaan rumah, dengan segera bisa melihat pola-pola ketika seorang siswa menyalin pekerjaan temannya. Dalam kasus yang lain melihat celah-celah pemecahan masalah yang tersembunyi diantara kekacauan yang ada. Kalau dalam pelajaran analisis bilangan real, sebuah himpunan bilangan bisa dikenali dari karakternya, maka dalam kehidupan nyata objeknya tak lagi deret ataupun anggota himpunan melainkan manusia dan lingkungan, meski sama-sama memiliki pola.
Pernahkah Anda Berpikir bahwa Semua buku yang ditulis dalam bahasa Inggris modern hanya terdiri dari pola-pola yang dibentuk oleh 26 huruf
Semua lukisan yang ada dibuat hanya dengan pola-pola dari tiga warna primer
Semua musik yang ada hanyalah pola-pola yang terdiri dari 12 nada
Semua kalimat matematika yang ada hanya terdiri dari 10 simbol
Semua perhitungan yang dilakukan komputer digital hanya dibentuk dari pola-pola yang terdiri dari dua komponen
Oleh karena itu
Setiap kali kita membicarakan sesuatu sebagai “hal baru”, kita sebenarnya sedang berbicara tentang pola asli dari komponen-komponen yang telah ada.